10 Pondasi Pendidikan anak

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr

1.Memilih Istri yang Shalihah

Sesungguhnya di antara pilar pertama dalam membangun keluarga adalah memilih istri yang shalihah. Pilar ini harus ada sebelum membangun rumah tangga, bahkan ia adalah pondasi yang utama dalam membangunnya. Sebab memilih pasangan hidup bukanlah sekadar kebutuhan biologis atau duniawi semata, akan tetapi lebih besar dari itu. Ia merupakan kerja sama antara dua insan dalam mendirikan sebuah rumah tangga yang kokoh di atas fondasi agama, akhlak, dan kebaikan, sehingga darinya akan lahir generasi yang shalih dan shalihah, yang akan menjadi penopang peradaban dan umat.

Istri shalihah adalah sumber ketenangan jiwa, ketenteraman hati, dan kebahagiaan dalam rumah tangga. Dengan istri yang shalihah, rumah akan dipenuhi rahmat dan keberkahan, serta anak-anak akan tumbuh dalam naungan kasih sayang, akhlak mulia, dan bimbingan yang benar.

Karena itu, Nabi ﷺ bersabda dalam haditsnya yang mulia:

“Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang beragama, niscaya engkau akan beruntung.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Menanamkan Aqidah dan Iman

Aqidah dan iman adalah dasar utama yang di atasnya dibangun seluruh amal. Jika dasar ini baik, maka baiklah seluruh amal yang lahir darinya, dan akan tampak pengaruhnya dalam kehidupan. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

﴿ أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا كَلِمَةٗ طَيِّبَةٗ كَشَجَرَةٖ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٞ وَفَرْعُهَا فِي ٱلسَّمَآءِ ٢٤ تُؤْتِيٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينِۢ بِإِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ٢٥ وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٖ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ ٱجۡتُثَّتۡ مِن فَوۡقِ ٱلۡأَرۡضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٖ ٢٦ ﴾
(QS. Ibrahim: 24–26)

Artinya:
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang tercabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak mempunyai keteguhan sedikit pun.”

Maka menanamkan aqidah ini di dalam jiwa anak-anak adalah dengan meneguhkan pada diri mereka tingkatan ihsan, serta menumbuhkan rasa muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah ﷻ dalam semua amal perbuatan mereka, khususnya pada masa sekarang ini di mana berbagai perangkat teknologi telah menyebar luas, dan di dalamnya terdapat racun serta berbagai keburukan jasmani.

Nabi ﷺ sangat bersungguh-sungguh dalam menjelaskan aqidah ini dan menanamkannya dalam jiwa generasi yang tumbuh. Dari Ibnu ‘Abbas r.a. ia berkata:

“Aku pernah berada di belakang Rasulullah ﷺ pada suatu hari, lalu beliau bersabda:
‘Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat:
Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu.
Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya selalu di hadapanmu.
Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah.
Apabila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah kepada Allah.
Dan ketahuilah bahwa jika seluruh umat bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, mereka tidak akan mampu memberi manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu.
Dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.
Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran catatan telah kering.’”

(HR. At-Tirmidzi)

3.Banyak Berdoa (كَثْرَةُ الدُّعَاءِ)

 Doa untuk anak-anak termasuk salah satu pilar terpenting dalam kesalehan dan keteguhan mereka. Dan doa ini dilakukan sebelum mereka lahir maupun setelahnya. Maka orang tua berdoa agar Allah menganugerahkan kepada mereka keturunan yang saleh, dan mereka juga berdoa untuk anak-anaknya agar Allah menganugerahkan kepada mereka petunjuk, kebaikan, kesalehan, keteguhan di atas agama, serta perlindungan dari keburukan dunia dan akhirat.

Dan sungguh Nabi ﷺ telah mengabarkan kepada kita tentang kekasih Allah, Ibrahim عليه السلام, bahwa ia berkata:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) dari golongan orang-orang yang saleh.”
(QS. Ash-Shaffat: 100)

Dan Ibrahim عليه السلام juga berkata:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي
“Ya Rabb, jadikanlah aku orang yang tetap mendirikan shalat, dan juga sebagian dari keturunanku.”
(QS. Ibrahim: 40)

Dan Zakariya عليه السلام berkata:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”
(QS. Ali Imran: 38)

4.Melindungi Diri dengan Dzikir

Di antara pilar yang agung adalah: perhatian orang tua untuk membentengi anak-anaknya dengan dzikir-dzikir yang disyariatkan dan bacaan-bacaan doa yang diajarkan. Hal itu memiliki pengaruh besar bagi anak-anak: berupa penjagaan, kebaikan, keselamatan, dan terhindar dari fitnah dan keburukan.

Syariat telah menjelaskan pentingnya usaha membentengi anak dengan dzikir yang dibacakan oleh kedua orang tuanya. Dari Ibnu ‘Abbas raḍiyallāhu ‘anhumā, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila salah seorang dari kalian ketika mendatangi istrinya (untuk berhubungan), lalu ia membaca doa:

 (بِاسْمِ اللهِ، اللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا) –

Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau rezekikan kepada kami – kemudian ditakdirkan lahir dari keduanya seorang anak, maka anak itu tidak akan diganggu setan selamanya.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Sabda Nabi ﷺ: “dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau rezekikan kepada kami” menunjukkan betapa besarnya penjagaan yang diberikan oleh dzikir ini kepada anak-anak, agar mereka terlindungi dari gangguan setan dan sekutunya

5. Memilih Nama-Nama yang Baik

Di antara perkara yang menunjang pendidikan anak-anak dengan pendidikan yang baik adalah orang tua memilihkan bagi anak-anak mereka nama-nama yang indah dan baik, yang akan membuat mereka bangga dengan ketaatan kepada Allah.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
“Sesungguhnya nama yang paling dicintai oleh Allah adalah عبد الله (Abdullāh) dan عبد الرحمن (Abdurrahmān).”
(HR. Muslim).

Nama-nama seperti Ṣāliḥ (saleh) dan yang semisal dengan nama-nama baik ini dapat mengingatkan kepada keshalihan, ketaatan, dan ibadah. Maka dampak dari hal itu sangat besar dalam diri anak yang diberi nama tersebut.

Sebagaimana perkataan (seorang ulama):
“Setiap orang akan mendapatkan bagian dari namanya.”

6. Berlaku Adil di Antara Anak-Anak

Maka wajiblah berlaku adil di antara anak-anak, serta menjauh dari sikap pilih kasih, condong, dan berbuat zalim. Hal ini termasuk salah satu fondasi terpenting dalam mendidik dan mengasuh mereka. Sesungguhnya seorang ayah jika tidak berlaku adil di antara anak-anaknya, maka hal itu akan menimbulkan permusuhan, kedengkian, dan rasa benci di antara mereka.

Di sisi lain, apabila ia berlaku adil terhadap mereka, maka itu akan menjadi salah satu sebab terbesar bagi terjalinnya kasih sayang dan cinta di antara mereka.

Telah datang dalam Shahih al-Bukhari dari an-Nu‘man bin Basyir raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata:
“Sesungguhnya ayahku pernah memberiku sebagian hartanya, lalu ibuku berkata: ‘Aku tidak akan ridha sampai engkau menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai saksi atas hal ini.’ Maka ayahku pergi menemui Rasulullah ﷺ untuk menjadikannya saksi atas pemberian itu. Rasulullah ﷺ pun bertanya: ‘Apakah engkau telah memberikan yang sama kepada seluruh anakmu?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Bertakwalah kalian kepada Allah, dan berlaku adillah di antara anak-anak kalian.’

7. Lemah Lembut dan Kasih Sayang

Di antara pilar utama dalam mendidik anak-anak adalah lemah lembut, penuh kasih, dan memperlakukan mereka dengan rahmat serta kebaikan.

Dan hendaklah berhati-hati dari sikap kasar, keras, serta kekerasan, karena Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan merusaknya.”
(HR. Muslim dalam Shahih-nya).

Kasih sayang dan kelembutan ini harus dimulai sejak anak masih kecil, sejak lahir hingga pandangan pertama mereka, lalu berlanjut terus sepanjang masa. Hal ini akan menumbuhkan kedekatan hati anak-anak kepada orang tua dan masyarakatnya, serta memperkuat hubungan yang penuh keakraban.

Kasih sayang dan kelembutan ini memudahkan proses pendidikan anak, menjadikan mereka mudah diarahkan, memperindah kepribadian mereka, memudahkan mereka menerima nasihat, serta menumbuhkan ketaatan mereka.

8. Memberikan Penjelasan dan Bimbingan

Termasuk juga pilar besar dalam mendidik anak-anak adalah terus-menerus memberi penjelasan dan bimbingan, terutama dalam hal perkara-perkara yang mulia dan akhlak yang luhur.

Yaitu dimulai dengan mengajarkan akidah agama, dasar-dasar Islam, rukun-rukun Islam dan iman, serta berbagai aturan syariat. Begitu pula membiasakan anak untuk menghindari perkara-perkara yang diharamkan, menjauhi perbuatan maksiat dan dosa, serta menjaga diri dari berbagai sarana keburukan yang dapat menjerumuskan kepadanya.

Peran terbesar dalam memberikan penjelasan dan bimbingan ini ada pada kedua orang tua, kemudian setelah itu guru dan para pembimbing. Masing-masing memiliki tanggung jawab dalam memberi arahan, baik dalam urusan agama maupun urusan dunia, seperti dalam hal makan, berpakaian, dan selainnya.

Termasuk wasiat agung dan bermanfaat adalah apa yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tatkala beliau masih kecil:

“Wahai anak kecil, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu…”
(HR. Tirmidzi, ia berkata: hadits ini hasan shahih).

9. Teman duduk yang shaleh

Sesungguhnya memperhatikan anak-anak dalam hal teman duduk dan sahabat termasuk pilar terbesar yang sangat berpengaruh dalam pendidikan. Sebab seorang sahabat pasti akan memberi pengaruh kepada orang yang bersahabat dengannya, dan pasti akan berdampak pada majelisnya.

Rasulullah ﷺ telah memberikan perumpamaan tentang pengaruh seorang sahabat terhadap temannya, baik sahabat yang baik maupun yang buruk. Beliau ﷺ bersabda:

“Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi:
Penjual minyak wangi, bisa jadi ia memberimu (minyak wangi), atau engkau membeli darinya, atau engkau mencium darinya bau harum.
Sedangkan pandai besi, bisa jadi ia membakar pakaianmu, atau engkau mencium darinya bau yang tidak sedap.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dan beliau ﷺ juga bersabda:
“Seseorang itu tergantung agama sahabat karibnya, maka hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi sahabat dekatnya.”
(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, ia berkata: hasan shahih).

10.Memberikan Teladan yang Baik

Termasuk pilar yang agung adalah bahwa orang tua menjadi teladan bagi anak-anaknya. Sesungguhnya anak-anak akan sangat memperhatikan ayahnya, sehingga mereka meniru ucapan, perbuatan, bahkan sikapnya, baik yang baik maupun yang buruk.

Maka tidaklah mungkin seorang ayah memerintahkan sesuatu kepada anak-anaknya, sedangkan ia sendiri tidak melakukannya. Tidak mungkin ia melarang sesuatu, namun justru ia mengerjakannya. Sebab kontradiksi yang nyata antara perkataan ayah dengan perbuatannya akan memberikan dampak buruk dan pengaruh besar terhadap anak-anak.

Karena itu, jika seorang ayah memerintahkan anak-anaknya untuk shalat, lalu ia sendiri meninggalkannya, atau ia melarang mereka dari keburukan namun justru ia mengerjakannya, maka ini merupakan bentuk teladan yang buruk.

Maka teladan (qudwah) dari orang tua memiliki pengaruh yang jauh lebih kuat daripada sekedar nasihat dan ucapan. Perbuatan ayah dan ibulah yang sebenarnya menjadi pendidikan pertama bagi anak-anak.

Perumpamaan ini seperti seorang dokter:

  • Dokter yang mengobati dirinya sendiri dari penyakit lalu sembuh, maka pasien akan lebih yakin dan termotivasi dengan resepnya.
  • Adapun dokter yang sakit namun tetap memberikan resep, maka pasien tidak akan yakin terhadap ucapannya dan justru meremehkannya.

Demikianlah halnya dalam pendidikan: teladan orang tua lebih kuat pengaruhnya daripada ribuan nasihat yang keluar dari lisannya.

#kajianparentingzidnailma

Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *